Diantara
Dua Pilihan
Hari
ini kurasakan ada perbedaan pada cowokku. Dia gak mau dipanggil sayang, gak
bisa diajak bercanda seperti kemarin-kemarin. Sepertinya aku harus ketemu untuk
menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Sebelum
aku menghubungi dia udah mengajak aku untuk ketemuan.
“dek,
bisa gak besok kita ketemu?”
“
Bisa…, Kenapa udah g da kata sayang lagi untukku?”
“
Maafkan aku yang sudah berbohong kepadamu selama ini. Maaf aku yang tak pernah
mikir perasaan seorang wanita”
“
Ada apa, sayang….. katakanlah sejujurnya yang terjadi”
“besok
saja aku jelaskan. Sekarang aku capek banget mau istirahat dulu.”
“Iya,
besok ketemu dimana?”
“deket
rummahku ya? “
“kenapa
harus deket rumahmu? Apakah tidak di Solo aja yang deket? Jam brapa kita
ketemu?”
“jam
9 aku jemput kamu di kos, dek”
“Iya…,
Insyaallah. Silakan istirahat.”
Esok hari aku dandan dengan manisnya
walaupun rasa hati gak karuan terpikir hal apa yang bakal terjadi nanti disana.
Siap-siap dengan resiko buruk. Sampai disana, di dekat terminal dia berhenti.
Hatiku bertanya-tanya, kenapa ketemuan di terminal. Aku brefikiran dia akan
tinggalin aku ke suatu tempat yang jauhh…….
Akhirnya aku beranikan diri untuk
bertanya. “Sayang, kenapa ke terminal? Katakan saja apa yang terjadi? Aku siap
tanggung seberapa resiko yang diberikan.” Dia tak menjawab apa-apa, hanya air
mata yang mampu menjawabnya. Kupegang tangannya dan kutanya sekali lagi, “Ada
apa, sayang….?”. Dengan berat dibibir dia menjawab, “ Aku Cuma pengen kenalin
seseorang padamu biar kamu tahu siapa diriku yang sebenarnya.” “Siapa dia?”
“Tunggu
saja ntar juga tahu.” Bibirku tak bisa menanggapi apa yang baru saja dia
ucapkan dengan ekspresi yang serba campur aduk gak bisa dipastikan sedang
marah, seneng, sedih, atau mungkin bingung.
Tak lama kemudian datang seorang
wanita sebaya dengan kita. Dia mengulurkan tangannya dan menyatakan namanya. “Andry…..”
Akupun
mengulurkan tanganku “ Aku Aini”
“Udah
kenal lama ma dia?” Tanya dia dengan sinis.
“Emmmm,
udah dari awal tahun, mbak. Mbak ini siapa?”. Dia hanya diam saja tidak
menjawab. Ekspresi wajahnya menampakkan sebuah kekecewaan yang ditutupi dengan senyuman
sinis.
“”Dia
cewekku yang sebenarnya. Maaf aku udah menduakan kalian….,” kata Anto.
Hatiku
hancur mendengar kata itu terucap dari bibir seorang cowok yang selama ini aku
anggap baik dan alim. Aku tak sanggup
keluarkan kata-kata lagi. Aku hany terdiam mendengar si Andry yang ngoceh
ngoceh dan Anto yang bicara dengan air mata buayanya itu.
Untuk menahan air mataku, aku
berusaha menghubungi sahabatnya Anto. Sebut saja namanya Rian. “An…, tega
banget temenmu menduakan ceweknya dengan aku dalam waktu yang cukup lama.
Lebih-lebih lagi dia pertemukan aku dengan ceweknya itu.”
“Apa???!!!!”
“Aku
bicara serius nih, aku ngga lagi bercanda.”
“Iya
maksudnya apa? “
“Maksudnya
selama setengah tahun ini aku hanya jadi yang kedua diantara mereka.”
“Whattt???!!!!
Tega banget temenku, maafin dia ya?”
“Kau
pikir memaafkan itu semudah membalikkan telapak tangan ya?! Aku ngga tahu apa
yang harus kulakukan sekarang. Tolong aku…”
“Kamu
sekarang dimana?”
“Di
deket rumahnya.”
“Suruh
anter ke kos lagi aja. Aku ke kos sekarang. Ntar kita bertemu disana. Hadapi
masalah dengan kepala dingin gak boleh
dengan nangis.”
“Iya,
Makasih…….”
“Ya udah antarkan selingkuhanmu
kembali. Jangan pernah hubungi aku lagi. Kamu gak pernah mikir dengan perasaan
wanita. Gak mikir aku, gak mikir gimana perasaannya!!!<” begitulah akhir
kata yang sempat diucapkan mbak Andry. “Maafkan aku semuanya……..”
Sampai
di kos mas Rian sudah menunggu, “ Ada apa dengan kalian? Pasangan yang slama
ini aku nilai serasi dan tak pernah ada masalah ternyata harus menghadapi
masalah yang separah ini.”
Saat
ini emosiku benar-benar meluap, “Tanya saja sama temenmu itu, apa maksudnya
jadikan aku pacarnya klo yang sana belum diputuskan!!! Aku heran dengan jalan
pikirannya, prtunya saja tidak mengijinkan pacaran tapi justru dia berani
mendua. Dan sekarang demi permintaan pacar pertamanya berani mempertemukan dua
wanita yang sama-sama mencintai dia!! Ngggak pernah terpikir di benaknya klo
sampai kita bertengkar di jalanan!!”
“Sabar
Aini…, masalah ngga selesai dengan cara emosi kaya gini.”
“Cewek
mana yang bisa trima udah disakiti kaya gini, mas…..?”
“Iya…,
aku tahu ini masalah berat tapi gak harus diselesaikan dengan marah-marah kaya
gini.”
“Aku
harus bagaimana???!! Aku udah disakiti ma cowok ini, masih dianggap merebut
pacar orang. Padahal aku ngga tahu klo dia dulu udah punya pacar di sana.”
“Maafkan
aku Aini…., “ kata Anto merengek minta maaf.
“Anto
sahabatku…, memaafkan tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua udah jadi
resiko yang harus kamu hadapi. Kamu harus rela kehilangan salah satu dari
mereka. Sekarang tentukan pilihan antara Aini atau yang disana.”
“Aku
tak ingin putus dengan Andry, tapi sepertinya dia udah gak percaya ma aku lagi”
……………………..
Aku hanya bisa terdiam menahan air mata. Aku harus bisa terima kenyataan ini
tanpa harus keluar air mata. Mungkin selama ini aku yang terlalu cepat
menentukan keputusan, ya inilah resiko yang harus aku tanggung.
“Apakah
Aini rela…?,” Tanya Rian padaku.
“Sebenarnya
aku belum rela, tapi emang udah seharusnya aku yang mengalah untuk mereka. Aku
datang belakangan dan ngga tahu apa-apa. Aku ngga harus menang dalam
pertarungan ini. Udah seharusnya aku mengalah walaupun dengan berat hati akan
kujalani.”
“Anto…, teganya kamu menghianati 2
wanita yang sangat tulus menyayangimu. Aku yang mendambakan sosok wanita
penyayang selama ini belum menemukan.” Begitulah kata Rian di hadapan aku dan
Anto.
Anto menjawab tanpa ada sedikitpun
perasaan bersalah ataupun menyesal, “ aku tahu kamu udah lama suka ma Aini tapi
dia udah menjadi milikku. Aku sering lihat beberapa sms mu kepada Aini saat kita jalan
bareng. Kalau memang Aini adalah pilihanmu, maka aku ikhlas….”
“An, Aini bukan batu kerikil. Dia
manusia punya perasaan. Dengan mudahnya kau serahkan dia padaku. Tak semudah
itu perasaan bisa tergantikan.”
“ An, Pulanglah… Kurasa permasalahan
kita sudah selesai. Tak ada hubungan lagi diantara kita. Klopun kamu butuh aku
sebagai teman udah ngga bisa seperti dulu lagi.” Kataku sedikit mengusir Anto.
Tanpa berfikir panjang dia keluar dari gerbang kos,” sekali lagi maafkan aku
Aini.”
“Maafkan kesalahan temenku Aini, “
kata Rian mulai ngajak bicara padaku.
“Tahu
kan memaafkan tak semudah membalikkan telapak tangan?”
“Iya
aku tahu, coba buka hatimu untuk menerima orang lain. Pasti kamu akan lebih
bahagia dengan dicintai daripada mencintai yang tak mungkin bisa diharapkan.”
“
Hatiku bagai sebuah gelas yang pecah. Ngga kan bisa diisi air kembali sebelum
ditata rapi dan di rangkai seperti semula. Aku berharap kamu bisa mengerti
itu.”
“Iya
aku paham. Aku akan menunggu sampai gelas itu bisa terisi kembali. Tapi tolong
segera buka mata hatimu untuk melihat yang seharuanya kau lihat. Jadikanlah hal
indah menjadi indah jangan sebaliknya hal indah menjadi tak berguna. Ingatlah
bahwa Allah membenci orang-orang yang menyiksa diri. Tabahlah dalam menghadapi
masalah. Allah masih menguji kekuatan cintamu. Biar kamu gak mudah nangis dalam
menghadapi hal seperti ini. Aku pamit dulu, kan aku rindukan selalu senyum
manismu seperti yang dulu”
“Makasih atas cinta yang kau
berikan…”
![]() |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar