Kamis, 29 November 2012

Arti Sahabat



Satu jam aku menunggu kedatangan mas Riyan, namun hanya sia-sia saja. Percuma air mata keluar dia pun tak kan pernah peduli lagi. Udah bersabar menanti 12 jam, akhirnya aku putuskan untuk menelepon dia. Dua kali panggilan tak terjawab, entah kemana aku juga tidak tahu. Lebih baik aku kirim sms saja mungkin setelah selesai kesibukan akan dibuka dan dibalas.
Jam 4 sore dia balas sms ku,” maaf aku baru pulang dari hajatan tetangga. Ni mau istirahat dulu baru balik ke Solo.” Tak terasa air mata ini menetes membasahi pipiku. Udah sore masih mau istirahat, ntar bisa bangun jam berapa? Kemungkinan dia bisa berangkat dari kampung halamannya habis magrib, sampai di Solo udah larut malam. Nggak akan ada waktu untuk bersamaku lagi.
Udah beberapa minggu terakhir ini aku merasa ada jarak antara kita, entah apa masalahnya aku tak tahu. Saat ditanya hanya diam seribu kata, tak ada jawaban dan tak ada sedikitpun pansaran cahaya dimatanya bahwa dia benar-benar sayang padaku.
Udahlah aku cuekin aja smsnya....., habis magrib dia tidak sms. Aku harus bagaimana ini...? terpaksa aku sms lagi, sebab aku tahu klo lagi dirumah dia gak akan angkat telepon. Dengan alasan malu sama orang tua dan lain-lain entah benar atau hanya sebagai alasan gak mau angkat telepon saja.
Aku mencoba untuk mengirim sms lagi, “ mas, bangun shalat magrib dulu udah hampir habis waktu magribnya nih...” tak lama pun dia membalas, “ iyah, ni udah bangun.” “udah Shalat?”, tanyaku. “udah,” begitu jawabnya singkat padat namun tak jelas apa maksudnya.”
“Jadi balik ke Solo gak, mas...?” “Entahlah aku capek banget.” “ya udah tidur lagi aja klo capek, besok pagi baru balik ke Solo.” “Klo balik pagi-pagi waktunya mepet, dek.” “Lah klo sekarang males balik, besok waktunya mepet, trus mau balik kapan???!!!!” “gak tau!!!!”
“Ditanya baik-baik malah marah-marah gitu kenapa?!!!”. Kali ini aku udah gak bisa menahan emosi atas kekecewaaanku menunggu kedatangnnya dari pagi sampai magrib masih belum bergerak dari kampung halamannya. “Asal kamu tau yah, aku ni lagi ada masalah. Nggak tahu besok harus menjawab apa. Harusnya aku yang marah-marah ma ku. Tapi kenapa justru kamu yang marah-marah?!!!!!”
Seketika seakan nafasku terhenti, tanpa ragu aku berusaha menelponnya. Tapi apa daya dia udah terlanjur marah, nggak mau angkat telepon. Coba aku sms lagi, “ Maaf mas...., aku tidak tahu klo kamu lagi ada masalah. Klo boleh tahu ada masalah apa? Ceritalah....., mungkin aku bisa membantumu.”
“Aku udah terlanjur marah!!!! Gak mau cerita dan gak akan balik ke Solo!!!, ngerti kamu?!!!!” jantungku seakan berhenti berdenyut membaca sms tersebut. Rasanya ingin bersimpuh dihadapannya untuk minta maaf, tapi apa daya dia jauh disana. Yang aku bisa hanya segera lari ke kamar mandi untuk menghapus air mata yang jatuh bercucuran. Malu klo sampai dilihat teman-teman aku nangis lagi hanya karena Ritan. Aku hanya diam tanpa membalas sms lagi.
Dua hari dia tak ada kabar. Coba aku sms tidak ada balasan, aku telepon selalu tertolak. Mungkin sengaja masukin nomorku ke daftar tolak di Hpnya karena lagi gak mau diganggu. Aku coba tanyakan pada adik sepupunya yang dekat dengan mas Riyan.
“Dek, kakak mu klo marah emang lama ya...?” “Iyah, emang begitu. Bisa jadi setahun gak luluh batu hatinya.” Begitulah jawab sepupunya dengan santai. “Hah??? Bisa gila aku nanggapi dia klo marah sampai setahun lamanya.”
“Lah mau gimana lagi mbak, itu udah menjadi sifatnya yang melekat sejak kecil. Emang ada apa...?” “Hanya salah paham aja dek, tapi udah dua hari gak mau kasih kabar. Aku harus gimana coba...?” “Cuekin aja klo masih kuat, klo udah gak kuat tinggalin mbak.” “Lebih baik aku kasih kesempatan dulu dua hari lagi, klo emang dia udah gak mau hubungi aku tanpa alasan yang jelas maka aku siap tinggalin dia.” “Ugkey, sabar ya mbak....” “Iya dek, makasih atas informasinya.”
Setelah dua hari kesempatan aku berikan tidak ada kejelasan juga mengenai mas Riyan. Dengan berat hati aku layangkan sebuah sms, “Jika memang kesalahanku sudah tidak bisa dimaafkan maka aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini saja. Maafkan aku yang tak pernah bisa mengerti perasaanmu. Terima kasih atas kebaikan yang kau berikan selama ini untukku.” Tak ada balasan juga, terbaca atau tidak sms ku kurasa ini udah keterlaluan.
Hari minggu aku berdiam diri dirumah, merenungi segala kesalahan dan berfikir logis klo emang udah seharusnya aku tinggalin dia. Sampai hari senin pun aku tak sanggup balik ke Solo karena masalah keluarga yang butuh bantuanku. Teman-teman khawatir jika aku sampai patah hati seperti kemarin-kemarin, tidak mau makan, tidak mau bicara, males kerja dan sebagainya.
Dering Hpku membangunkan tidur siangku. Kubuka dan segera kubaca sms dari Tia, sepupun dari Mas Riyan. “ Mbak...., kamu yang putus kug aku yang kehilangan ya..., aku gak suka dengan perempuan yang disukai mas Riyan.” “Siapa Dia? Mbak Putri?,” tanyaku pada Tia. “Bukan mbak, temen sekampus mu namanya kurang tau. Dia hanya kenal lewat facebook.”
Sebentar otakku perputar kutemukan sebuah pertanda bahwa dia pernah menyebut nama seorang perempuan difacebooknya yang sengaja aku buka untuk sekedar ngecek kejujurannya. Aku balas sms nya, “ Apakah perempuan itu Atik?” “Iyah mbak, bener banget. Mbak tahu dari mana?” “Gak perlu tahu darimana, yang jelas aku udah lama curiga. Dia teman satu kos ku, teman satu kampus juga. Mungkin yang nyari selingkuhan kurang ahli bisanya hanya lirik teman-teman.”
“Maafkan masku ya mbak...?” “Aku tak pernah menganggap dia salah, klo tidak jodoh buat apa bertahan. Tinggalkan dia untuk pilihan Allah yang terbaik untukku.” Itulah akhir sms ku untuk Tia.
Tiba-tiba saja aku ingin sms ke teman-teman untuk menghilangkan rasa sakit hatiku karena kelakuan Mas Riyan yang sebenarnya masih belum bisa kuterima ini. “Apa yang kau lakukan jika mantanku jatuh cinta padamu?” begitu kira-kira sms yang ku kirim ke teman-teman satu kos ku.
Tak lama kemudian HP ku berdering banyak sms masuk jawaban dari mereka. Kebanyakan dari mereka membalas yang intinya hanya ingin membalaskan rasa sakit hatiku pada mantanku. Aku tersenyum membaca sms dari mereka.
Sesampainya aku di Solo, teman-teman cerita tentang kejamnya dia dibelakangku. “Kenapa baru balik ke sini sekarang, mbak?” tanya salah salah satu temanku yang biasa dipanggil Putri. “Kemarin ada masalah keluarga yang membutuhkan bantuanku, maaf gak bisa ngasih kabar pada kalian.” “Ku kira patah hati lagi.” “Enggak akan patah hati klo mau berfikir logis mbak,” jawabku santai. “Tuh udah ditunggu Atik, katanya mau kasih tau sesuatu gitu. Langsung ke kamarnya saja.”
“Emmm, aku masuk kuliah jam 8 mbak, ntar aja pulang kuliah aku temui Atik. Gak buru-buru kan informasinya?” “Mungkin gak begitu penting juga buat kamu, ya udah kuliah dulu aja daripada mengganggu konsentrasi kuliahmu.” “ Iya mbak, aku berangkat kuloah dulu ya,,,,,?” “yupz, hati-hati dijalan. Jangan banyak ngelamun, berfikir logis untuk yang terbaik ya...?” “Siap bozzzz,” jawabku sambil senyum dan melarikan diri ke kampus pagi itu.”
-----

Pulang kuliah aku langsung ke kamarnya Atik, temen satu kos ku. “Assalamu’alaikum......,” sapaku. “Wa alaikumussalam,,,,,” jawab Atik. “Masuk aja mbak, maaf mengganggu waktumu sebentar.” “Iya, tidak apa-apa. Ada masalah apa sebenarnya?”
“Mbak udah putus sama mas Riyan?” “Udah...., aku tahu kug klo dia main dibelakangku sama temen sendiri. Tapi aku percaya kamu tak kan pernah mau terima semua kekurangan dia.” “Bner banget tuh, maaf mbak mungkin termasuk aku juga yang berusaha menghancurkan hubungan kalian,” begitu kata Atik memulai ceritanya.”
Setelah menghela nafas dia kembali bercerita, “ sekitar sebulan yang lalu dia masih jadi pacarmu. Dia sempat chatting sama Adria dan ngajak ketemuan. Tapi karena Adria masih pacaran sama Mas Ogi, dia nyuruh aku ngasih nomor HP ku ke mas Riyan. Okelah, aku kasih nomor Hpku ke mas Riyan. Dia percaya aja tanpa curiga sedikit pun. Selalu sms dikira nomorku ini nomornya Adria. Mas Riyan selalu chatt facebook ku dan ngajak ketemuan. Tapi klo aku minta ketemuan dan belanja pasti dia gak mau. Dengan alasan dialagi gak ada uang untuk jajan, gajinya mepet.”
“Ini semua chatting antara aku dan dia. Mbak bisa baca sendiri, klo perlu dicetak sekalian buat bukti.”  Atik berkata sambil memperlihatkan semua chattingan yang udah dicopy ke dalam Office word 2007. Aku baca semua chattingnya berawal dari 12 Oktober 2012, kira-kira udah sebulan lebih. Aku mampu bertahan tanpa air mata, kututupi air mataku dengan tertawa lebar karena mikir dimana Riyan naruh otaknya. Dia gak pernah bersyukur dengan karunia yang telah ada, tapi selalu mencari yang lebih sempurna tanpa berfikir siapa dia yang sebenarnya.
Aku berniat print semua bukti dan kukirim lewat email kemudian aku sma Riyan, “ ternyata udah lama kamu main di belakangku.” “Kamu ngomong apa? Jangan suka nuduh orang sembarangan gitu tidak baik ah.,” jawab dia menutupi kejelekannya sendiri. “aku gak nuduh kug, ada bukti nyata klo kamu mau baba silakan cek email masuk dari aku.”
“Haduw..., ternyata temen-temen kamu udah kamu cuci otaknya agar gak mau bersamaku kan?” “Eh, jangan nuduh orang gitu dunk...., ngaca kamu itu siapa? Main suka ma temenku gak pake mikir. Kau pikir dia mau terima semua kekurangan kamu. Dia udah melihat hubungan antara aku dan kamu. Kamu yang jarang keluarin modal. Gak nyadar setiap kamu ke kos ku tak ada seorang teman ku yang nyapa kamu. Itu semua karena mereka benci sama kelakuan kamu. Mereka melihat besarnya pengorbananku yang hanya kamu dustai dan gak pernah kau hargai. Eh, beraninya kamu ngajak temen-temenku main di belakangku. Sekarang aku tanya, kamu bisa berhenti mengganggu mereka atau kamu yang bakal kena batunya?”
“Emang apa yang bisa kamu lakukan untuk itu?”
“Kau pikir aku wanita bodoh yang tak tau apa-apa? Aku tau semua rencana mereka yang akan membalas rasa sakit hatiku padamu. Klo kamu mau terusin kesalah kamu ya silakan masuk jurang mereka, tapi klo mau berubah tinggalkan mereka dan bertaubatlah.” “Klo kamu gak berhenti nyalahin aku terus, aku bakal bikin hidupmu gak tenang!” lagi-lagi jawabnya singkat padat  namun tak jelas dan gak nyambung dengan apa yang dibahas.
Bosen aku bicara dengannya yang selalu gak nyambung, slalu gak jelas dan selalu gak menemukan jalan keluar. HP aku masukin tas dan segera aku berangkat kerja. Sampai ditempat kerja HP ku bergetar, memeang sejak siang dari kampus sengaja gak aku kasih nada dering. “SEMOGA KAMU MASIH MAU BACA SMS INI..... Aku minta maaf atas segala kesalahan ku selama ini. Terima kasih atas segalanya yang kau berikan untukku. Aku tak ingin ada dendam atau kebencian diantara kita.” Begitulah sms yang bisa  kubaca dari mas Riyan.
“Alhamdulillah..., Iya....sama-sama. Semoga Allah kasih maaf atas kesalahan kita.”
“Alhamdulillah, Syukron Khoiron Katsiron.” “Wa Iyyakum,” Jawabku.
Aku berharap itu yang terakir antara aku dan Riyan. Aku tak ingin ada salah paham lagi. Biarlah rasa cinta ini berubah menjadi sederhana sebagai teman biasa. Kami biasa memanggil kakak dan adik. Semoga ini yang terakhir aku lakukan kesalahan dalam mencari pasangan hidup. Aku hanya akan diam untuk menunggu orang yang dipilihkan Allah untukku. Harusnya aku senyum bahagia kehilangan dia untuk menemukan yang terbaik.
                                                                ***

Jumat, 10 Agustus 2012

Kumpulan Cerpen


Diantara Dua Pilihan
Hari ini kurasakan ada perbedaan pada cowokku. Dia gak mau dipanggil sayang, gak bisa diajak bercanda seperti kemarin-kemarin. Sepertinya aku harus ketemu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Sebelum aku menghubungi dia udah mengajak aku untuk ketemuan.
“dek, bisa gak besok kita ketemu?”
“ Bisa…, Kenapa udah g da kata sayang lagi untukku?”
“ Maafkan aku yang sudah berbohong kepadamu selama ini. Maaf aku yang tak pernah mikir perasaan seorang wanita”
“ Ada apa, sayang….. katakanlah sejujurnya yang terjadi”
“besok saja aku jelaskan. Sekarang aku capek banget mau istirahat dulu.”
“Iya, besok ketemu dimana?”
“deket rummahku ya? “
“kenapa harus deket rumahmu? Apakah tidak di Solo aja yang deket? Jam brapa kita ketemu?”
“jam 9 aku jemput kamu di kos, dek”
“Iya…, Insyaallah. Silakan istirahat.”
            Esok hari aku dandan dengan manisnya walaupun rasa hati gak karuan terpikir hal apa yang bakal terjadi nanti disana. Siap-siap dengan resiko buruk. Sampai disana, di dekat terminal dia berhenti. Hatiku bertanya-tanya, kenapa ketemuan di terminal. Aku brefikiran dia akan tinggalin aku ke suatu tempat yang jauhh…….
            Akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya. “Sayang, kenapa ke terminal? Katakan saja apa yang terjadi? Aku siap tanggung seberapa resiko yang diberikan.” Dia tak menjawab apa-apa, hanya air mata yang mampu menjawabnya. Kupegang tangannya dan kutanya sekali lagi, “Ada apa, sayang….?”. Dengan berat dibibir dia menjawab, “ Aku Cuma pengen kenalin seseorang padamu biar kamu tahu siapa diriku yang sebenarnya.” “Siapa dia?”
“Tunggu saja ntar juga tahu.” Bibirku tak bisa menanggapi apa yang baru saja dia ucapkan dengan ekspresi yang serba campur aduk gak bisa dipastikan sedang marah, seneng, sedih, atau mungkin bingung.
            Tak lama kemudian datang seorang wanita sebaya dengan kita. Dia mengulurkan tangannya dan menyatakan namanya. “Andry…..”
Akupun mengulurkan tanganku “ Aku Aini”
“Udah kenal lama ma dia?” Tanya dia dengan sinis.
“Emmmm, udah dari awal tahun, mbak. Mbak ini siapa?”. Dia hanya diam saja tidak menjawab. Ekspresi wajahnya menampakkan sebuah kekecewaan yang ditutupi dengan senyuman sinis.
“”Dia cewekku yang sebenarnya. Maaf aku udah menduakan kalian….,” kata Anto.
Hatiku hancur mendengar kata itu terucap dari bibir seorang cowok yang selama ini aku anggap baik dan alim.  Aku tak sanggup keluarkan kata-kata lagi. Aku hany terdiam mendengar si Andry yang ngoceh ngoceh dan Anto yang bicara dengan air mata buayanya itu.
            Untuk menahan air mataku, aku berusaha menghubungi sahabatnya Anto. Sebut saja namanya Rian. “An…, tega banget temenmu menduakan ceweknya dengan aku dalam waktu yang cukup lama. Lebih-lebih lagi dia pertemukan aku dengan ceweknya itu.”
“Apa???!!!!”
“Aku bicara serius nih, aku ngga lagi bercanda.”
“Iya maksudnya apa? “
“Maksudnya selama setengah tahun ini aku hanya jadi yang kedua diantara mereka.”
“Whattt???!!!! Tega banget temenku, maafin dia ya?”
“Kau pikir memaafkan itu semudah membalikkan telapak tangan ya?! Aku ngga tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Tolong aku…”
“Kamu sekarang dimana?”
“Di deket rumahnya.”
“Suruh anter ke kos lagi aja. Aku ke kos sekarang. Ntar kita bertemu disana. Hadapi masalah dengan kepala dingin gak  boleh dengan nangis.”
“Iya, Makasih…….”
            “Ya udah antarkan selingkuhanmu kembali. Jangan pernah hubungi aku lagi. Kamu gak pernah mikir dengan perasaan wanita. Gak mikir aku, gak mikir gimana perasaannya!!!<” begitulah akhir kata yang sempat diucapkan mbak Andry. “Maafkan aku semuanya……..”
              Sampai di kos mas Rian sudah menunggu, “ Ada apa dengan kalian? Pasangan yang slama ini aku nilai serasi dan tak pernah ada masalah ternyata harus menghadapi masalah yang separah ini.”
Saat ini emosiku benar-benar meluap, “Tanya saja sama temenmu itu, apa maksudnya jadikan aku pacarnya klo yang sana belum diputuskan!!! Aku heran dengan jalan pikirannya, prtunya saja tidak mengijinkan pacaran tapi justru dia berani mendua. Dan sekarang demi permintaan pacar pertamanya berani mempertemukan dua wanita yang sama-sama mencintai dia!! Ngggak pernah terpikir di benaknya klo sampai kita bertengkar di jalanan!!”
“Sabar Aini…, masalah ngga selesai dengan cara emosi kaya gini.”
“Cewek mana yang bisa trima udah disakiti kaya gini, mas…..?”
“Iya…, aku tahu ini masalah berat tapi gak harus diselesaikan dengan marah-marah kaya gini.”
“Aku harus bagaimana???!! Aku udah disakiti ma cowok ini, masih dianggap merebut pacar orang. Padahal aku ngga tahu klo dia dulu udah punya pacar di sana.”
“Maafkan aku Aini…., “ kata Anto merengek minta maaf.
“Anto sahabatku…, memaafkan tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua udah jadi resiko yang harus kamu hadapi. Kamu harus rela kehilangan salah satu dari mereka. Sekarang tentukan pilihan antara Aini atau yang disana.”
“Aku tak ingin putus dengan Andry, tapi sepertinya dia udah gak percaya ma aku lagi”
…………………….. Aku hanya bisa terdiam menahan air mata. Aku harus bisa terima kenyataan ini tanpa harus keluar air mata. Mungkin selama ini aku yang terlalu cepat menentukan keputusan, ya inilah resiko yang harus aku tanggung.
“Apakah Aini rela…?,” Tanya Rian padaku.
“Sebenarnya aku belum rela, tapi emang udah seharusnya aku yang mengalah untuk mereka. Aku datang belakangan dan ngga tahu apa-apa. Aku ngga harus menang dalam pertarungan ini. Udah seharusnya aku mengalah walaupun dengan berat hati akan kujalani.”
            “Anto…, teganya kamu menghianati 2 wanita yang sangat tulus menyayangimu. Aku yang mendambakan sosok wanita penyayang selama ini belum menemukan.” Begitulah kata Rian di hadapan aku dan Anto.
            Anto menjawab tanpa ada sedikitpun perasaan bersalah ataupun menyesal, “ aku tahu kamu udah lama suka ma Aini tapi dia udah menjadi milikku. Aku sering lihat beberapa sms mu kepada Aini saat kita jalan bareng. Kalau memang Aini adalah pilihanmu, maka aku ikhlas….”
            “An, Aini bukan batu kerikil. Dia manusia punya perasaan. Dengan mudahnya kau serahkan dia padaku. Tak semudah itu perasaan bisa tergantikan.”
            “ An, Pulanglah… Kurasa permasalahan kita sudah selesai. Tak ada hubungan lagi diantara kita. Klopun kamu butuh aku sebagai teman udah ngga bisa seperti dulu lagi.” Kataku sedikit mengusir Anto. Tanpa berfikir panjang dia keluar dari gerbang kos,” sekali lagi maafkan aku Aini.”
            “Maafkan kesalahan temenku Aini, “ kata Rian mulai ngajak bicara padaku.
“Tahu kan memaafkan tak semudah membalikkan telapak tangan?”
“Iya aku tahu, coba buka hatimu untuk menerima orang lain. Pasti kamu akan lebih bahagia dengan dicintai daripada mencintai yang tak mungkin bisa diharapkan.”
“ Hatiku bagai sebuah gelas yang pecah. Ngga kan bisa diisi air kembali sebelum ditata rapi dan di rangkai seperti semula. Aku berharap kamu bisa mengerti itu.”
“Iya aku paham. Aku akan menunggu sampai gelas itu bisa terisi kembali. Tapi tolong segera buka mata hatimu untuk melihat yang seharuanya kau lihat. Jadikanlah hal indah menjadi indah jangan sebaliknya hal indah menjadi tak berguna. Ingatlah bahwa Allah membenci orang-orang yang menyiksa diri. Tabahlah dalam menghadapi masalah. Allah masih menguji kekuatan cintamu. Biar kamu gak mudah nangis dalam menghadapi hal seperti ini. Aku pamit dulu, kan aku rindukan selalu senyum manismu seperti yang dulu”
            “Makasih atas cinta yang kau berikan…”