Satu
jam aku menunggu kedatangan mas Riyan, namun hanya sia-sia saja. Percuma air
mata keluar dia pun tak kan pernah peduli lagi. Udah bersabar menanti 12 jam,
akhirnya aku putuskan untuk menelepon dia. Dua kali panggilan tak terjawab,
entah kemana aku juga tidak tahu. Lebih baik aku kirim sms saja mungkin setelah
selesai kesibukan akan dibuka dan dibalas.
Jam
4 sore dia balas sms ku,” maaf aku baru pulang dari hajatan tetangga. Ni mau
istirahat dulu baru balik ke Solo.” Tak terasa air mata ini menetes membasahi
pipiku. Udah sore masih mau istirahat, ntar bisa bangun jam berapa? Kemungkinan
dia bisa berangkat dari kampung halamannya habis magrib, sampai di Solo udah
larut malam. Nggak akan ada waktu untuk bersamaku lagi.
Udah
beberapa minggu terakhir ini aku merasa ada jarak antara kita, entah apa
masalahnya aku tak tahu. Saat ditanya hanya diam seribu kata, tak ada jawaban
dan tak ada sedikitpun pansaran cahaya dimatanya bahwa dia benar-benar sayang
padaku.
Udahlah
aku cuekin aja smsnya....., habis magrib dia tidak sms. Aku harus bagaimana
ini...? terpaksa aku sms lagi, sebab aku tahu klo lagi dirumah dia gak akan
angkat telepon. Dengan alasan malu sama orang tua dan lain-lain entah benar
atau hanya sebagai alasan gak mau angkat telepon saja.
Aku
mencoba untuk mengirim sms lagi, “ mas, bangun shalat magrib dulu udah hampir
habis waktu magribnya nih...” tak lama pun dia membalas, “ iyah, ni udah
bangun.” “udah Shalat?”, tanyaku. “udah,” begitu jawabnya singkat padat namun
tak jelas apa maksudnya.”
“Jadi
balik ke Solo gak, mas...?” “Entahlah aku capek banget.” “ya udah tidur lagi
aja klo capek, besok pagi baru balik ke Solo.” “Klo balik pagi-pagi waktunya
mepet, dek.” “Lah klo sekarang males balik, besok waktunya mepet, trus mau
balik kapan???!!!!” “gak tau!!!!”
“Ditanya
baik-baik malah marah-marah gitu kenapa?!!!”. Kali ini aku udah gak bisa
menahan emosi atas kekecewaaanku menunggu kedatangnnya dari pagi sampai magrib
masih belum bergerak dari kampung halamannya. “Asal kamu tau yah, aku ni lagi
ada masalah. Nggak tahu besok harus menjawab apa. Harusnya aku yang marah-marah
ma ku. Tapi kenapa justru kamu yang marah-marah?!!!!!”
Seketika
seakan nafasku terhenti, tanpa ragu aku berusaha menelponnya. Tapi apa daya dia
udah terlanjur marah, nggak mau angkat telepon. Coba aku sms lagi, “ Maaf
mas...., aku tidak tahu klo kamu lagi ada masalah. Klo boleh tahu ada masalah
apa? Ceritalah....., mungkin aku bisa membantumu.”
“Aku
udah terlanjur marah!!!! Gak mau cerita dan gak akan balik ke Solo!!!, ngerti
kamu?!!!!” jantungku seakan berhenti berdenyut membaca sms tersebut. Rasanya
ingin bersimpuh dihadapannya untuk minta maaf, tapi apa daya dia jauh disana.
Yang aku bisa hanya segera lari ke kamar mandi untuk menghapus air mata yang
jatuh bercucuran. Malu klo sampai dilihat teman-teman aku nangis lagi hanya
karena Ritan. Aku hanya diam tanpa membalas sms lagi.
Dua
hari dia tak ada kabar. Coba aku sms tidak ada balasan, aku telepon selalu
tertolak. Mungkin sengaja masukin nomorku ke daftar tolak di Hpnya karena lagi
gak mau diganggu. Aku coba tanyakan pada adik sepupunya yang dekat dengan mas
Riyan.
“Dek,
kakak mu klo marah emang lama ya...?” “Iyah, emang begitu. Bisa jadi setahun
gak luluh batu hatinya.” Begitulah jawab sepupunya dengan santai. “Hah??? Bisa
gila aku nanggapi dia klo marah sampai setahun lamanya.”
“Lah
mau gimana lagi mbak, itu udah menjadi sifatnya yang melekat sejak kecil. Emang
ada apa...?” “Hanya salah paham aja dek, tapi udah dua hari gak mau kasih kabar.
Aku harus gimana coba...?” “Cuekin aja klo masih kuat, klo udah gak kuat
tinggalin mbak.” “Lebih baik aku kasih kesempatan dulu dua hari lagi, klo emang
dia udah gak mau hubungi aku tanpa alasan yang jelas maka aku siap tinggalin
dia.” “Ugkey, sabar ya mbak....” “Iya dek, makasih atas informasinya.”
Setelah
dua hari kesempatan aku berikan tidak ada kejelasan juga mengenai mas Riyan.
Dengan berat hati aku layangkan sebuah sms, “Jika memang kesalahanku sudah
tidak bisa dimaafkan maka aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini saja.
Maafkan aku yang tak pernah bisa mengerti perasaanmu. Terima kasih atas
kebaikan yang kau berikan selama ini untukku.” Tak ada balasan juga, terbaca
atau tidak sms ku kurasa ini udah keterlaluan.
Hari
minggu aku berdiam diri dirumah, merenungi segala kesalahan dan berfikir logis
klo emang udah seharusnya aku tinggalin dia. Sampai hari senin pun aku tak
sanggup balik ke Solo karena masalah keluarga yang butuh bantuanku. Teman-teman
khawatir jika aku sampai patah hati seperti kemarin-kemarin, tidak mau makan,
tidak mau bicara, males kerja dan sebagainya.
Dering
Hpku membangunkan tidur siangku. Kubuka dan segera kubaca sms dari Tia, sepupun
dari Mas Riyan. “ Mbak...., kamu yang putus kug aku yang kehilangan ya..., aku
gak suka dengan perempuan yang disukai mas Riyan.” “Siapa Dia? Mbak Putri?,”
tanyaku pada Tia. “Bukan mbak, temen sekampus mu namanya kurang tau. Dia hanya
kenal lewat facebook.”
Sebentar
otakku perputar kutemukan sebuah pertanda bahwa dia pernah menyebut nama
seorang perempuan difacebooknya yang sengaja aku buka untuk sekedar ngecek
kejujurannya. Aku balas sms nya, “ Apakah perempuan itu Atik?” “Iyah mbak,
bener banget. Mbak tahu dari mana?” “Gak perlu tahu darimana, yang jelas aku
udah lama curiga. Dia teman satu kos ku, teman satu kampus juga. Mungkin yang
nyari selingkuhan kurang ahli bisanya hanya lirik teman-teman.”
“Maafkan
masku ya mbak...?” “Aku tak pernah menganggap dia salah, klo tidak jodoh buat
apa bertahan. Tinggalkan dia untuk pilihan Allah yang terbaik untukku.” Itulah
akhir sms ku untuk Tia.
Tiba-tiba
saja aku ingin sms ke teman-teman untuk menghilangkan rasa sakit hatiku karena
kelakuan Mas Riyan yang sebenarnya masih belum bisa kuterima ini. “Apa yang kau
lakukan jika mantanku jatuh cinta padamu?” begitu kira-kira sms yang ku kirim
ke teman-teman satu kos ku.
Tak
lama kemudian HP ku berdering banyak sms masuk jawaban dari mereka. Kebanyakan
dari mereka membalas yang intinya hanya ingin membalaskan rasa sakit hatiku
pada mantanku. Aku tersenyum membaca sms dari mereka.
Sesampainya
aku di Solo, teman-teman cerita tentang kejamnya dia dibelakangku. “Kenapa baru
balik ke sini sekarang, mbak?” tanya salah salah satu temanku yang biasa
dipanggil Putri. “Kemarin ada masalah keluarga yang membutuhkan bantuanku, maaf
gak bisa ngasih kabar pada kalian.” “Ku kira patah hati lagi.” “Enggak akan
patah hati klo mau berfikir logis mbak,” jawabku santai. “Tuh udah ditunggu
Atik, katanya mau kasih tau sesuatu gitu. Langsung ke kamarnya saja.”
“Emmm,
aku masuk kuliah jam 8 mbak, ntar aja pulang kuliah aku temui Atik. Gak
buru-buru kan informasinya?” “Mungkin gak begitu penting juga buat kamu, ya
udah kuliah dulu aja daripada mengganggu konsentrasi kuliahmu.” “ Iya mbak, aku
berangkat kuloah dulu ya,,,,,?” “yupz, hati-hati dijalan. Jangan banyak
ngelamun, berfikir logis untuk yang terbaik ya...?” “Siap bozzzz,” jawabku
sambil senyum dan melarikan diri ke kampus pagi itu.”
-----
Pulang
kuliah aku langsung ke kamarnya Atik, temen satu kos ku.
“Assalamu’alaikum......,” sapaku. “Wa alaikumussalam,,,,,” jawab Atik. “Masuk
aja mbak, maaf mengganggu waktumu sebentar.” “Iya, tidak apa-apa. Ada masalah
apa sebenarnya?”
“Mbak
udah putus sama mas Riyan?” “Udah...., aku tahu kug klo dia main dibelakangku
sama temen sendiri. Tapi aku percaya kamu tak kan pernah mau terima semua kekurangan
dia.” “Bner banget tuh, maaf mbak mungkin termasuk aku juga yang berusaha
menghancurkan hubungan kalian,” begitu kata Atik memulai ceritanya.”
Setelah
menghela nafas dia kembali bercerita, “ sekitar sebulan yang lalu dia masih
jadi pacarmu. Dia sempat chatting sama Adria dan ngajak ketemuan. Tapi karena
Adria masih pacaran sama Mas Ogi, dia nyuruh aku ngasih nomor HP ku ke mas
Riyan. Okelah, aku kasih nomor Hpku ke mas Riyan. Dia percaya aja tanpa curiga
sedikit pun. Selalu sms dikira nomorku ini nomornya Adria. Mas Riyan selalu
chatt facebook ku dan ngajak ketemuan. Tapi klo aku minta ketemuan dan belanja
pasti dia gak mau. Dengan alasan dialagi gak ada uang untuk jajan, gajinya
mepet.”
“Ini
semua chatting antara aku dan dia. Mbak bisa baca sendiri, klo perlu dicetak
sekalian buat bukti.” Atik berkata
sambil memperlihatkan semua chattingan yang udah dicopy ke dalam Office word
2007. Aku baca semua chattingnya berawal dari 12 Oktober 2012, kira-kira udah
sebulan lebih. Aku mampu bertahan tanpa air mata, kututupi air mataku dengan
tertawa lebar karena mikir dimana Riyan naruh otaknya. Dia gak pernah bersyukur
dengan karunia yang telah ada, tapi selalu mencari yang lebih sempurna tanpa
berfikir siapa dia yang sebenarnya.
Aku
berniat print semua bukti dan kukirim lewat email kemudian aku sma Riyan, “
ternyata udah lama kamu main di belakangku.” “Kamu ngomong apa? Jangan suka
nuduh orang sembarangan gitu tidak baik ah.,” jawab dia menutupi kejelekannya
sendiri. “aku gak nuduh kug, ada bukti nyata klo kamu mau baba silakan cek
email masuk dari aku.”
“Haduw...,
ternyata temen-temen kamu udah kamu cuci otaknya agar gak mau bersamaku kan?”
“Eh, jangan nuduh orang gitu dunk...., ngaca kamu itu siapa? Main suka ma
temenku gak pake mikir. Kau pikir dia mau terima semua kekurangan kamu. Dia
udah melihat hubungan antara aku dan kamu. Kamu yang jarang keluarin modal. Gak
nyadar setiap kamu ke kos ku tak ada seorang teman ku yang nyapa kamu. Itu semua
karena mereka benci sama kelakuan kamu. Mereka melihat besarnya pengorbananku
yang hanya kamu dustai dan gak pernah kau hargai. Eh, beraninya kamu ngajak
temen-temenku main di belakangku. Sekarang aku tanya, kamu bisa berhenti
mengganggu mereka atau kamu yang bakal kena batunya?”
“Emang
apa yang bisa kamu lakukan untuk itu?”
“Kau
pikir aku wanita bodoh yang tak tau apa-apa? Aku tau semua rencana mereka yang
akan membalas rasa sakit hatiku padamu. Klo kamu mau terusin kesalah kamu ya
silakan masuk jurang mereka, tapi klo mau berubah tinggalkan mereka dan
bertaubatlah.” “Klo kamu gak berhenti nyalahin aku terus, aku bakal bikin
hidupmu gak tenang!” lagi-lagi jawabnya singkat padat namun tak jelas dan gak nyambung dengan apa
yang dibahas.
Bosen
aku bicara dengannya yang selalu gak nyambung, slalu gak jelas dan selalu gak menemukan
jalan keluar. HP aku masukin tas dan segera aku berangkat kerja. Sampai
ditempat kerja HP ku bergetar, memeang sejak siang dari kampus sengaja gak aku
kasih nada dering. “SEMOGA KAMU MASIH MAU BACA SMS INI..... Aku minta maaf atas
segala kesalahan ku selama ini. Terima kasih atas segalanya yang kau berikan
untukku. Aku tak ingin ada dendam atau kebencian diantara kita.” Begitulah sms
yang bisa kubaca dari mas Riyan.
“Alhamdulillah...,
Iya....sama-sama. Semoga Allah kasih maaf atas kesalahan kita.”
“Alhamdulillah,
Syukron Khoiron Katsiron.” “Wa Iyyakum,” Jawabku.
Aku
berharap itu yang terakir antara aku dan Riyan. Aku tak ingin ada salah paham
lagi. Biarlah rasa cinta ini berubah menjadi sederhana sebagai teman biasa.
Kami biasa memanggil kakak dan adik. Semoga ini yang terakhir aku lakukan
kesalahan dalam mencari pasangan hidup. Aku hanya akan diam untuk menunggu
orang yang dipilihkan Allah untukku. Harusnya aku senyum bahagia kehilangan dia
untuk menemukan yang terbaik.
***
