Jumat, 10 Agustus 2012

Kumpulan Cerpen


Diantara Dua Pilihan
Hari ini kurasakan ada perbedaan pada cowokku. Dia gak mau dipanggil sayang, gak bisa diajak bercanda seperti kemarin-kemarin. Sepertinya aku harus ketemu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Sebelum aku menghubungi dia udah mengajak aku untuk ketemuan.
“dek, bisa gak besok kita ketemu?”
“ Bisa…, Kenapa udah g da kata sayang lagi untukku?”
“ Maafkan aku yang sudah berbohong kepadamu selama ini. Maaf aku yang tak pernah mikir perasaan seorang wanita”
“ Ada apa, sayang….. katakanlah sejujurnya yang terjadi”
“besok saja aku jelaskan. Sekarang aku capek banget mau istirahat dulu.”
“Iya, besok ketemu dimana?”
“deket rummahku ya? “
“kenapa harus deket rumahmu? Apakah tidak di Solo aja yang deket? Jam brapa kita ketemu?”
“jam 9 aku jemput kamu di kos, dek”
“Iya…, Insyaallah. Silakan istirahat.”
            Esok hari aku dandan dengan manisnya walaupun rasa hati gak karuan terpikir hal apa yang bakal terjadi nanti disana. Siap-siap dengan resiko buruk. Sampai disana, di dekat terminal dia berhenti. Hatiku bertanya-tanya, kenapa ketemuan di terminal. Aku brefikiran dia akan tinggalin aku ke suatu tempat yang jauhh…….
            Akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya. “Sayang, kenapa ke terminal? Katakan saja apa yang terjadi? Aku siap tanggung seberapa resiko yang diberikan.” Dia tak menjawab apa-apa, hanya air mata yang mampu menjawabnya. Kupegang tangannya dan kutanya sekali lagi, “Ada apa, sayang….?”. Dengan berat dibibir dia menjawab, “ Aku Cuma pengen kenalin seseorang padamu biar kamu tahu siapa diriku yang sebenarnya.” “Siapa dia?”
“Tunggu saja ntar juga tahu.” Bibirku tak bisa menanggapi apa yang baru saja dia ucapkan dengan ekspresi yang serba campur aduk gak bisa dipastikan sedang marah, seneng, sedih, atau mungkin bingung.
            Tak lama kemudian datang seorang wanita sebaya dengan kita. Dia mengulurkan tangannya dan menyatakan namanya. “Andry…..”
Akupun mengulurkan tanganku “ Aku Aini”
“Udah kenal lama ma dia?” Tanya dia dengan sinis.
“Emmmm, udah dari awal tahun, mbak. Mbak ini siapa?”. Dia hanya diam saja tidak menjawab. Ekspresi wajahnya menampakkan sebuah kekecewaan yang ditutupi dengan senyuman sinis.
“”Dia cewekku yang sebenarnya. Maaf aku udah menduakan kalian….,” kata Anto.
Hatiku hancur mendengar kata itu terucap dari bibir seorang cowok yang selama ini aku anggap baik dan alim.  Aku tak sanggup keluarkan kata-kata lagi. Aku hany terdiam mendengar si Andry yang ngoceh ngoceh dan Anto yang bicara dengan air mata buayanya itu.
            Untuk menahan air mataku, aku berusaha menghubungi sahabatnya Anto. Sebut saja namanya Rian. “An…, tega banget temenmu menduakan ceweknya dengan aku dalam waktu yang cukup lama. Lebih-lebih lagi dia pertemukan aku dengan ceweknya itu.”
“Apa???!!!!”
“Aku bicara serius nih, aku ngga lagi bercanda.”
“Iya maksudnya apa? “
“Maksudnya selama setengah tahun ini aku hanya jadi yang kedua diantara mereka.”
“Whattt???!!!! Tega banget temenku, maafin dia ya?”
“Kau pikir memaafkan itu semudah membalikkan telapak tangan ya?! Aku ngga tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Tolong aku…”
“Kamu sekarang dimana?”
“Di deket rumahnya.”
“Suruh anter ke kos lagi aja. Aku ke kos sekarang. Ntar kita bertemu disana. Hadapi masalah dengan kepala dingin gak  boleh dengan nangis.”
“Iya, Makasih…….”
            “Ya udah antarkan selingkuhanmu kembali. Jangan pernah hubungi aku lagi. Kamu gak pernah mikir dengan perasaan wanita. Gak mikir aku, gak mikir gimana perasaannya!!!<” begitulah akhir kata yang sempat diucapkan mbak Andry. “Maafkan aku semuanya……..”
              Sampai di kos mas Rian sudah menunggu, “ Ada apa dengan kalian? Pasangan yang slama ini aku nilai serasi dan tak pernah ada masalah ternyata harus menghadapi masalah yang separah ini.”
Saat ini emosiku benar-benar meluap, “Tanya saja sama temenmu itu, apa maksudnya jadikan aku pacarnya klo yang sana belum diputuskan!!! Aku heran dengan jalan pikirannya, prtunya saja tidak mengijinkan pacaran tapi justru dia berani mendua. Dan sekarang demi permintaan pacar pertamanya berani mempertemukan dua wanita yang sama-sama mencintai dia!! Ngggak pernah terpikir di benaknya klo sampai kita bertengkar di jalanan!!”
“Sabar Aini…, masalah ngga selesai dengan cara emosi kaya gini.”
“Cewek mana yang bisa trima udah disakiti kaya gini, mas…..?”
“Iya…, aku tahu ini masalah berat tapi gak harus diselesaikan dengan marah-marah kaya gini.”
“Aku harus bagaimana???!! Aku udah disakiti ma cowok ini, masih dianggap merebut pacar orang. Padahal aku ngga tahu klo dia dulu udah punya pacar di sana.”
“Maafkan aku Aini…., “ kata Anto merengek minta maaf.
“Anto sahabatku…, memaafkan tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua udah jadi resiko yang harus kamu hadapi. Kamu harus rela kehilangan salah satu dari mereka. Sekarang tentukan pilihan antara Aini atau yang disana.”
“Aku tak ingin putus dengan Andry, tapi sepertinya dia udah gak percaya ma aku lagi”
…………………….. Aku hanya bisa terdiam menahan air mata. Aku harus bisa terima kenyataan ini tanpa harus keluar air mata. Mungkin selama ini aku yang terlalu cepat menentukan keputusan, ya inilah resiko yang harus aku tanggung.
“Apakah Aini rela…?,” Tanya Rian padaku.
“Sebenarnya aku belum rela, tapi emang udah seharusnya aku yang mengalah untuk mereka. Aku datang belakangan dan ngga tahu apa-apa. Aku ngga harus menang dalam pertarungan ini. Udah seharusnya aku mengalah walaupun dengan berat hati akan kujalani.”
            “Anto…, teganya kamu menghianati 2 wanita yang sangat tulus menyayangimu. Aku yang mendambakan sosok wanita penyayang selama ini belum menemukan.” Begitulah kata Rian di hadapan aku dan Anto.
            Anto menjawab tanpa ada sedikitpun perasaan bersalah ataupun menyesal, “ aku tahu kamu udah lama suka ma Aini tapi dia udah menjadi milikku. Aku sering lihat beberapa sms mu kepada Aini saat kita jalan bareng. Kalau memang Aini adalah pilihanmu, maka aku ikhlas….”
            “An, Aini bukan batu kerikil. Dia manusia punya perasaan. Dengan mudahnya kau serahkan dia padaku. Tak semudah itu perasaan bisa tergantikan.”
            “ An, Pulanglah… Kurasa permasalahan kita sudah selesai. Tak ada hubungan lagi diantara kita. Klopun kamu butuh aku sebagai teman udah ngga bisa seperti dulu lagi.” Kataku sedikit mengusir Anto. Tanpa berfikir panjang dia keluar dari gerbang kos,” sekali lagi maafkan aku Aini.”
            “Maafkan kesalahan temenku Aini, “ kata Rian mulai ngajak bicara padaku.
“Tahu kan memaafkan tak semudah membalikkan telapak tangan?”
“Iya aku tahu, coba buka hatimu untuk menerima orang lain. Pasti kamu akan lebih bahagia dengan dicintai daripada mencintai yang tak mungkin bisa diharapkan.”
“ Hatiku bagai sebuah gelas yang pecah. Ngga kan bisa diisi air kembali sebelum ditata rapi dan di rangkai seperti semula. Aku berharap kamu bisa mengerti itu.”
“Iya aku paham. Aku akan menunggu sampai gelas itu bisa terisi kembali. Tapi tolong segera buka mata hatimu untuk melihat yang seharuanya kau lihat. Jadikanlah hal indah menjadi indah jangan sebaliknya hal indah menjadi tak berguna. Ingatlah bahwa Allah membenci orang-orang yang menyiksa diri. Tabahlah dalam menghadapi masalah. Allah masih menguji kekuatan cintamu. Biar kamu gak mudah nangis dalam menghadapi hal seperti ini. Aku pamit dulu, kan aku rindukan selalu senyum manismu seperti yang dulu”
            “Makasih atas cinta yang kau berikan…”